Membeli saham untuk pertama kalinya bisa menjadi langkah menarik untuk mulai mengenal dunia investasi. Namun, bagi pemula, proses ini sering terasa membingungkan karena ada banyak istilah, aplikasi, dan pilihan saham yang perlu dipahami. Agar tidak sekadar mengikuti tren atau rekomendasi orang lain, penting untuk mengetahui cara membeli saham dengan aman dan mempertimbangkan risiko sejak awal.
Saham merupakan instrumen investasi yang nilainya dapat naik maupun turun. Karena itu, tidak ada cara yang dapat menjamin keuntungan. Prinsip utama bagi investor pemula adalah memahami produk, memilih perusahaan sekuritas yang legal, menggunakan dana yang sesuai kemampuan, serta membuat keputusan berdasarkan informasi yang jelas. OJK juga menyarankan investor untuk mengenali profil risiko dan memastikan legalitas lembaga atau produk investasi sebelum menanamkan dana.
1. Pahami Cara Kerja Saham
Sebelum melakukan pembelian, luangkan waktu untuk memahami apa itu saham. Ketika membeli saham suatu perusahaan, investor memiliki bagian kepemilikan atas perusahaan tersebut. Keuntungan dapat berasal dari kenaikan harga saham atau pembagian dividen, tetapi keduanya tidak selalu terjadi.
Harga saham dapat berubah karena berbagai faktor, seperti kondisi perusahaan, perekonomian, industri, sentimen pasar, dan kondisi global. Oleh sebab itu, jangan menganggap saham sebagai cara cepat untuk mendapatkan keuntungan besar.
2. Tentukan Tujuan dan Profil Risiko
Langkah berikutnya adalah menentukan alasan Anda berinvestasi. Apakah untuk tujuan jangka panjang, persiapan kebutuhan masa depan, atau membangun aset secara bertahap? Tujuan tersebut akan membantu menentukan strategi investasi.
Kenali juga kemampuan Anda menghadapi penurunan harga. Jika melihat portofolio turun membuat Anda panik dan ingin langsung menjual, mungkin Anda perlu memahami kembali toleransi risiko sebelum membeli saham.
Gunakan dana yang memang dialokasikan untuk investasi, bukan uang untuk kebutuhan sehari-hari atau dana darurat. Dengan demikian, Anda tidak terpaksa menjual saham hanya karena membutuhkan uang dalam waktu dekat.
3. Pilih Perusahaan Sekuritas yang Resmi
Untuk membeli saham di pasar sekunder Indonesia, investor perlu membuka rekening efek melalui perusahaan sekuritas. Proses tersebut mencakup pembukaan rekening efek, Sub Rekening Efek, Rekening Dana Nasabah (RDN), serta Single Investor Identification (SID).
Pastikan perusahaan sekuritas yang digunakan memiliki izin dan berada dalam pengawasan regulator yang sesuai. Jangan mudah tergoda oleh pihak yang menawarkan keuntungan pasti atau meminta transfer dana melalui rekening pribadi. OJK mencatat bahwa janji keuntungan sangat tinggi dan pasti merupakan salah satu karakteristik yang perlu diwaspadai dalam penipuan investasi.
4. Pelajari Perusahaan Sebelum Membeli
Jangan memilih saham hanya karena namanya sedang ramai di media sosial. Sebelum membeli, pelajari perusahaan yang bersangkutan.
Beberapa hal yang dapat diperhatikan antara lain pendapatan, laba, utang, arus kas, prospek industri, serta model bisnis perusahaan. Laporan keuangan dan informasi resmi perusahaan dapat menjadi bahan pertimbangan. OJK juga menekankan pentingnya mempelajari kinerja perusahaan, termasuk laporan keuangan dan prospek bisnis, sebelum melakukan transaksi.
Tidak perlu langsung menganalisis terlalu banyak perusahaan. Untuk pemula, lebih baik memahami beberapa perusahaan terlebih dahulu daripada membeli banyak saham tanpa mengetahui alasan di balik keputusan tersebut.
5. Mulai dengan Modal yang Terukur
Tidak ada keharusan untuk langsung menginvestasikan dana dalam jumlah besar. Mulailah dengan nominal yang sesuai kemampuan dan gunakan transaksi pertama sebagai sarana belajar.
Di pasar saham Indonesia, transaksi dilakukan dalam satuan lot. Satu lot terdiri dari 100 lembar saham. Dengan memahami mekanisme ini, Anda dapat menghitung kebutuhan dana berdasarkan harga saham dan jumlah lot yang ingin dibeli.
Selain harga saham, perhatikan pula biaya transaksi yang dikenakan oleh sekuritas. Biaya tersebut dapat berbeda antara satu perusahaan sekuritas dan lainnya.
6. Lakukan Pembelian dengan Tenang
Setelah rekening aktif dan dana tersedia, Anda dapat memilih saham melalui aplikasi perdagangan milik sekuritas. Masukkan kode saham, tentukan jumlah lot, lalu masukkan harga sesuai mekanisme perdagangan yang tersedia.
Hindari membeli hanya karena saham sedang naik tajam atau karena takut ketinggalan tren. Keputusan yang terburu-buru dapat membuat investor mengabaikan risiko. Lebih baik memiliki alasan yang jelas sebelum menekan tombol beli.
7. Pantau Investasi, Bukan Harga Setiap Menit
Setelah membeli saham, investor tidak harus memeriksa pergerakan harga setiap saat. Terlalu sering melihat perubahan harga justru dapat memicu keputusan emosional.
Pantau perkembangan perusahaan, laporan keuangan, kondisi industri, dan alasan utama Anda membeli saham tersebut. Investor juga dapat menggunakan AKSes KSEI untuk memonitor posisi dan mutasi efek yang tersimpan di KSEI.
Membeli saham pertama kali sebaiknya dianggap sebagai proses belajar, bukan perlombaan mencari keuntungan tercepat. Dengan memahami risiko, menggunakan dana yang terukur, memilih sekuritas resmi, dan melakukan riset sebelum membeli, pemula dapat membangun kebiasaan investasi yang lebih disiplin.
Yang terpenting, jangan pernah menginvestasikan uang hanya karena mendapat rekomendasi dari orang lain. Pelajari sendiri informasi yang tersedia dan pastikan keputusan sesuai dengan tujuan serta kemampuan finansial Anda. Investasi yang aman bukan berarti bebas dari risiko, melainkan dilakukan dengan pemahaman yang cukup dan pengelolaan risiko yang bijak.